Sabtu, 03 Juni 2017

Metamorfosa Wadah Rapot SD 4 Ibnu Rusyd

Sebulan lagi semester genap berakhir. Itu artinya waktu rapotan tiba. Ciri khas dari Sekolah Alam Indonesia adalah bila rapotan tiba, maka kami harus membuat wadah rapotnya. Aku dan partnerku memutuskan untuk membuat wadah rapot berupa hand bag terbuat dari lintingan koran yang digulung.
wadah rapot yang kami rencanakan

Melihat tingkat kerumitannya,  sebenarnya ini tidaklah rumit. Hanya saja membutuhkan waktu yang lama. Koran-koran harus dipotong sesuai ukuran,  lalu dilipat atau dilinting, selanjutnya lipatan-lipatan tersebut digulung hingga membentuk lingkaran. Barulah lingkaran-lingkaran koran tersebut dibentuk sedemikian rupa dan dilem hingga menjadi tas tangan yang manis. Cukup banyak tahapannya. Apalagi tas yang akan dibuat membutuhkan 120 lingkaran koran. Setiap lingkaran membutuhkan 3 buah lintingan koran. Artinya,  mereka harus membuat lipatan atau lintingan sebanyak 360 linting. Hemh... cukup banyak, bukan? Maka aku dan partnerku sepakat memulai dari 2 pekan sebelum ujian, atau sama dengan 1 bulan sebelum rapotan.

Ku kumpulkan anak-anak idiologisku, Personel SD 4 Ibnu Rusyd. Ku perlihatkan contoh wadah rapot pada mereka, apa saja yang dibutuhkan, apa saja tahapannya, bagaimana cara pembuatannya, berapa lama waktu yang dibutuhkan, hingga konsekuensi apa yang diterima bila wadah rapot tak selesai sampai ujian kenaikan kelas. Konsekuensinya adalah, mereka akan terus masuk hingga wadah rapot selesai. Maka, supaya wadah rapot selesai sesuai jadwal, harus dikerjakan dengan fokus; tidak boleh banyak ngobrol dan bercanda.

waktu terus berlari, tanpa terasa UKK tiba. Namun wadah rapot masih jauh dari selesai. Alhasil kembali kami meminta pada anak-anak untuk menyelesaikan wadah rapot sepulang UKK. Mereka setuju, akupun meminta izin pada para orang tua untuk meminta waktu tambahan selesai UKK. Pembuatan wadah rapot terus berlanjut. Qadarulloh... hingga UKK berakhir dan Ramadhan camp menjelang,  si wadah rapotpun masih jauh panggang dari api. rata-rata mereka baru bisa membuat 1/20 dari total lingkaran koran yang dibutuhkan. Maka, kami meminta mereka untuk kembali masuk untuk menyelesaikan.

Tampak wajah kecewa dari beberapa anak. Aku menerima rasa kecewa mereka. Ku ajak mereka bicara, kemudian dilanjutkan dengan evaluasi bagaimana cara mengerjakan wadah rapot kemarin, lalu apa solusi yang harus dilakukan. Merekapun menyampaikan solusi. Alhamdulillah, solusi disepakati, mereka menerima untuk tetap masuk hingga pekerjaan selesai. Ku lihat ada perubahan dari cara kerja mereka. Kesungguhan benar-benar tampak. Satu demi satu lingkaran terbentuk. 

Hari berganti. Tak terasa Kamis tiba,  dihari libur nasional itu mereka tetap semangat ke sekolah untuk menyelesaikan pekerjaan. Jumlah lingkaran koran masih sangat jauh dari kebutuhan. Ini tidak akan selesai. Tas yang semula kami rencanakan, tidak akan selesai. Sementara waktu tinggal 2 hari. Aku dan partnerku sepakat melihat proses, bukan hasil. Dan apa yang kami mau, sudah kami dapatkan. Kami mau anak-anak bersungguh-sungguh, fokus, bertanggung jawab, dan menyelesaikan pekerjaannya. Masalah hasil, itu adalah hak preogatif Allah. Kami percaya, hasil tidak pernah menghianati proses. 

Jujur, sempat stress melihat pekerjaan yang tak kunjung rampung dan tidak tega melihat mereka terus masuk untuk menyelesaikannya, sementara semua kelas lain sudah libur. Dan secara logika, tidak akan selesai dalam waktu 2 hari. Akhirnya, ku putuskan merubah bentuk wadah rapot. Toh, apa yang kami inginkan dari anak-anak sudah kami dapatkan. Mereka bersungguh-sungguh, fokus, dan bertanggung jawab untuk menyelesaikan pekerjaannya.

Wadah Rapot yang berhasil dibuat

Tas tangan yang semula kami rencanakan, ku ganti dengan membuat paper bag dari koran. Dan anak-anak serta partnerku sepakat dengan ideku. Lingkaran-lingkaran koran yang sudah mereka buat, digunakan sebagai penghias paper bag agar tampak lebih manis. Alhamdulillah, Kamis siang wadah rapot selesai. Anak senang, kami tenang. Alhamdulillah, mereka bisa libur dan fokus beribadah Ramadhan di rumah. Thanks ya gaes, kalian memang luar biasa. Walau wadah rapot kita tidak sesuai rencana, jujur aku bangga pada kalian; salut dengan semangat, kerjasama, kegigihan, dan tanggung jawab kalian. Semoga Allah selalu istiqomahkan kalian dalam kebaikan.

1 comments:

gayatri arifin mengatakan...

Hakim pulang dgn wajah lega...akhirnya, Bund...bikin paper bag...