Jumat, 14 Oktober 2016

Teka teki rasa

Senja kemarin ku sambangi rumah seorang sahabat. Sembari menyantap es krim favorit kami,  obrolan pun semakin beragam, hingga sampai pada klimaks. Ia bertanya padaku bagaimana kabar aku dan dia. Haha.... tawa ku berderai. "biasa aja" jawabku singkat, lalu ku diam.
Obrolanpun semakin berlanjut,  hingga ku dapati kalimatnya yang cukup mengena bagiku. "Terkadang,  berbagai kondisi yang terjadi kita hubung-hubungkan. kita anggap ini suatu kebetulan. padahal sebenernya itu adalah ujian dari NYA" jleb... kalimatnya syarat akan makna.

Malam menjelang,  aku kepikiran dengan kata-katanya. Nuraniku membenarkan. Bisa jadi semua kejadian aku anggap sebagai kebetulan atau justru sengaja dibuat kebetulan. Padahal tidak demikianlah sejatinya.

Berkaca pada pengalaman 5 tahun silam. Mungkin ini saatnya kembali sebagai diri sendiri. mungkin ini saatnya berhenti menerka-nerka setiap huruf yang ia reka. mungkin ini saatnya berhenti menghubung-hubungkan keadaannya dengan keadaanku.

Rasa, adalah sebuah misteri. Rasa adalah sebuah teka-teki. Cara terbaik untuk menjawab teka-teki rasa adalah dengan berhenti mencari jawabannya. Berhenti mencari tahu apa dan bagaimana sebenarnya perasaannya. Berhenti mencari tahu semua jawaban teka-teki itu. Karena ini teka-teki rasa, semakin aku menebak, semakin hilang kemurnian rasanya. Semakin banyak rasa-rasa lain yang turut larut.

"Mungkin,  tak perlu aku terus menerka. Bila dia memang memiliki perasaan terhadapku, maka ia akan memperjuangkanku dengan cara yang dicintai-Nya. Jika tidak, mungkin rasa itu tidak murni karena-Nya. Atau, mungkin saja Allah masih belum mengizinkan waktu itu tiba. Karena setiap teka-teki, jika sudah waktunya terjawab, pasti akan terjawab dengan benar. Tidak bisa di satu sisi saja. Ia saling terhubung satu sama lain. Jadi, jika aku bukan jawaban dari teka-teki perasaannya, atau jika dia bukan jawaban dari teka-teki perasaanku, ya ... memang bukan begitu jawaban teka-tekinya. Tidak akan bisa. Tak akan dapat. Allah sudah mengaturnya. Ikuti saja cara-Nya." Hatiku bermonolog teringat kata-kata Ahimsa Azaleav dalam novel teka-teki rasa.

semoga monolog segumpal daging dalam dadaku ini tak hanya sebatas wacana. Aku tahu teorinya,  namun terkadang ku kalah. Sering kali ku turuti sesuatu yang salah. hingga aku kembali terjebak pada suatu teka teki rasa.

3 comments:

TMYBH mengatakan...

Wanita itu jangan mencari, tapi MINTA lah dan PILIH lah..

1. Minta pada Allah
2. Minta pada Orangtua
3. Minta pada Guru

JANGAN DIAM SAJA..!!

Rima Aulia mengatakan...

terimakasih atas kunjungan dan sarannya, brader

Rima Aulia mengatakan...

terimakasih atas kunjungan dan sarannya, brader